1. Volume Kasus vs Risiko Per Kapita
Polda dengan total kasus terbanyak (Metro Jaya 77k, Jatim 60k) didorong oleh populasi raksasa. Ketika dihitung sebagai Crime Rate per 100k penduduk, wilayah seperti Sulawesi Utara (540), Papua Barat (501), dan Sulawesi Selatan (440) menunjukkan probabilitas kerentanan warga yang jauh lebih tinggi.
2. Lonjakan Pelaporan Digital (EMP Bareskrim)
Kenaikan angka kejahatan terdaftar dari ~240 ribu (2021) menjadi ~560-580 ribu (2023-2024) dipengaruhi oleh implementasi sistem pencatatan digital kepolisian (Electronic Management Development / EMP Bareskrim Polri) yang meningkatkan kepatuhan input data di tingkat polsek dan polres.
3. Ruang Gelap Kejahatan (The Dark Figure of Crime)
Survei Susenas BPS mencatat hanya 20,28% korban di 2024 yang melapor ke polisi. Sekitar 79,72% kejahatan tidak tercatat karena diselesaikan secara damai, kerugian dianggap kecil, atau keengganan berurusan dengan prosedur kepolisian.