Ada satu hal yang saya pelajari dari bertahun-tahun mengerjakan survei: hasil analisis sebaik apa pun tidak bisa menyelamatkan kuesioner yang buruk. Kita bisa memakai model paling canggih, tetapi kalau pertanyaannya membingungkan, bias, atau mengarahkan, yang kita analisis hanyalah kebingungan responden dengan tampilan yang rapi.
Dalam statistik ada ungkapan lama yang cocok di sini: garbage in, garbage out. Dan kuesioner adalah pintu masuk pertama bagi data kita. Berikut tujuh jebakan yang paling sering saya temui, lengkap dengan contoh dan cara memperbaikinya.
Jebakan 1: Pertanyaan ganda (double-barreled)
Contoh buruk: “Saya puas dengan gaji dan tunjangan yang saya terima.”
Bagaimana kalau responden puas dengan gaji tetapi tidak puas dengan tunjangan? Ia tidak punya jawaban yang jujur. Apa pun jawabannya, kamu tidak akan tahu yang mana yang ia maksud.
Perbaikan: pecah menjadi dua pertanyaan. “Saya puas dengan gaji yang saya terima.” dan “Saya puas dengan tunjangan yang saya terima.”
Tanda yang mudah dikenali: kata “dan” atau “serta” di tengah pertanyaan. Tidak selalu salah, tapi selalu patut diperiksa.
Jebakan 2: Pertanyaan yang menggiring
Contoh buruk: “Seberapa setuju Anda bahwa atasan Anda sudah memberikan dukungan yang sangat baik?”
Pertanyaan itu sudah menyiratkan jawaban yang diharapkan. Responden cenderung mengikuti arah yang disodorkan, terutama bila pertanyaannya menyangkut atasan atau institusi mereka.
Perbaikan: gunakan kalimat netral: “Atasan saya memberikan dukungan yang saya butuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan.” Dengan pilihan jawaban dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju, kedua arah jawaban terasa sama pantasnya.
Jebakan 3: Istilah yang kabur atau terlalu teknis
Contoh buruk: “Apakah Anda sering menggunakan layanan digital kami?” Sering itu seberapa? Setiap hari? Setiap minggu? Bagi sebagian orang, tiga kali sebulan adalah “sering”.
Perbaikan: gunakan batasan yang jelas dan terukur: “Dalam satu bulan terakhir, berapa kali Anda menggunakan aplikasi kami?” dengan pilihan jawaban yang konkret (0 kali, 1 sampai 3 kali, 4 sampai 10 kali, lebih dari 10 kali).
Selain itu, hindari jargon. Kalau responden harus membuka kamus untuk memahami pertanyaanmu, kamu kehilangan data atau mendapat tebakan.
Jebakan 4: Kata mutlak (“selalu”, “tidak pernah”, “semua”)
Contoh buruk: “Atasan saya selalu mendengarkan pendapat saya.”
Kata “selalu” memaksa responden menolak pernyataan walaupun atasannya mendengarkan sembilan dari sepuluh kali. Hasilnya, skor tampak lebih rendah daripada kenyataan.
Perbaikan: gunakan skala frekuensi yang eksplisit (“Seberapa sering atasan saya mendengarkan pendapat saya?” dengan pilihan tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, selalu), atau pernyataan tanpa kata mutlak.
Jebakan 5: Pilihan jawaban yang tidak seimbang atau tumpang tindih
Contoh buruk: pilihan usia “20 sampai 30”, “30 sampai 40”, “40 sampai 50”. Seseorang yang berusia 30 tahun akan bingung memilih yang mana.
Perbaikan: buat kategori yang saling lepas dan menyeluruh: “20 sampai 29”, “30 sampai 39”, “40 sampai 49”, “50 ke atas”.
Pada skala Likert, pastikan keseimbangan: jumlah pilihan positif dan negatif sama, dengan pilihan netral yang jelas bila diperlukan. Pilihan seperti “sangat baik, baik, cukup, kurang” cenderung condong ke sisi positif dan membuat data menumpuk di atas.
Jebakan 6: Urutan dan konteks yang memengaruhi jawaban
Pertanyaan sebelumnya bisa memengaruhi jawaban pertanyaan berikutnya (priming). Kalau kamu menanyakan serangkaian pertanyaan tentang masalah di kantor lalu bertanya, “Seberapa puas Anda secara keseluruhan dengan pekerjaan Anda?”, responden sudah dikondisikan untuk memikirkan hal-hal buruk.
Perbaikan: tempatkan pertanyaan umum lebih dulu sebelum yang spesifik. Letakkan pertanyaan sensitif (pendapatan, kesehatan, perilaku pribadi) di bagian akhir setelah responden merasa nyaman. Kelompokkan pertanyaan berdasarkan tema, dan pertimbangkan mengacak urutan butir dalam satu skala bila memungkinkan.
Jebakan 7: Kuesioner yang terlalu panjang dan melelahkan
Responden yang lelah akan menjawab asal-asalan: memilih jawaban tengah terus-menerus atau pola zig-zag (straight-lining). Di bagian akhir kuesioner yang panjang, kualitas data biasanya turun.
Perbaikan: tanyakan hanya yang kamu perlukan. Untuk setiap pertanyaan, tanyakan: “Analisis apa yang akan memakai jawaban ini?” Kalau tidak ada jawabannya, buang pertanyaan itu. Perkirakan waktu pengisian dan uji coba. Sebagian besar survei yang disebar umum sebaiknya selesai dalam beberapa menit.
Bonus: dua kebiasaan yang membedakan kuesioner profesional
Uji coba (pilot). Berikan kuesioner kepada sepuluh sampai dua puluh orang yang mirip dengan responden sebenarnya. Tanyakan: bagian mana yang membingungkan? Pertanyaan mana yang terasa aneh? Berapa lama waktunya? Dua jam uji coba bisa menyelamatkan dua bulan pengumpulan data yang sia-sia.
Uji validitas dan reliabilitas. Setelah data uji coba terkumpul, periksa korelasi butir-total, struktur faktor, dan reliabilitas (misalnya Cronbach’s alpha atau composite reliability). Butir yang berperilaku aneh perlu diperbaiki sebelum survei utama dijalankan.
Pertimbangan etika
Jelaskan tujuan survei, siapa yang mengakses data, dan bagaimana kerahasiaan dijaga. Berikan pilihan untuk tidak menjawab pertanyaan sensitif. Dan jangan meminta data identitas yang tidak benar-benar kamu perlukan. Responden yang percaya pada kerahasiaan akan menjawab lebih jujur, dan jawaban yang jujur adalah satu-satunya hal yang membuat survei bernilai.
Ringkasan: daftar periksa tujuh jebakan
Sebelum menyebar kuesioner, periksa setiap pertanyaan:
- Apakah hanya menanyakan satu hal?
- Apakah netral, tidak menggiring?
- Apakah istilahnya jelas dan terukur?
- Bebas dari kata mutlak yang memaksa?
- Pilihan jawabannya seimbang dan tidak tumpang tindih?
- Urutannya tidak mengondisikan jawaban?
- Apakah panjangnya wajar dan setiap pertanyaan punya tujuan?
Kuesioner yang baik tidak terlihat. Responden mengisinya dengan lancar, dan kamu mendapat data yang bisa dipercaya. Itulah tanda bahwa seni dan sains sudah bekerja bersama.
Contoh perbaikan tiga pertanyaan lagi
Contoh A. ‘Bagaimana pendapat Anda tentang kualitas dan harga produk kami?’ (ganda). Perbaikan: pisahkan menjadi ‘Bagaimana pendapat Anda tentang kualitas produk kami?’ dan ‘Bagaimana pendapat Anda tentang harga produk kami?’.
Contoh B. ‘Tidakkah Anda setuju bahwa pelayanan kami sudah sangat cepat?’ (menggiring dan negatif ganda). Perbaikan: ‘Pelayanan kami cepat.’ dengan skala setuju-tidak setuju.
Contoh C. ‘Seberapa sering Anda menggunakan layanan kami?’ dengan pilihan ‘jarang, kadang-kadang, sering’. Perbaikan: berikan jangka waktu dan rentang yang jelas, misalnya ‘Dalam 30 hari terakhir, berapa kali Anda menggunakan layanan kami?’ dengan pilihan angka.
Skala ganjil atau genap?
Skala dengan jumlah pilihan ganjil (misalnya lima) memberi titik tengah netral. Skala genap (misalnya empat atau enam) memaksa responden memilih arah. Tidak ada yang mutlak benar. Skala ganjil cocok bila netral adalah sikap yang sah. Skala genap cocok bila kamu ingin mengurangi kecenderungan memilih jawaban tengah demi aman. Yang penting, konsisten dalam satu instrumen, dan pahami konsekuensinya saat menganalisis.
Menerjemahkan kuesioner dari bahasa lain
Menerjemahkan instrumen dari bahasa Inggris tidak cukup dengan mesin penerjemah. Praktik yang baik: terjemahan oleh dua penerjemah independen, penggabungan oleh peneliti, terjemahan balik oleh penerjemah ketiga yang tidak melihat versi asli, lalu perbandingan dengan versi asli, dan uji coba pada responden. Setelah itu, uji ulang validitas dan reliabilitasnya pada sampelmu, karena makna kata bisa bergeser antarbudaya.
Butuh kuesioner yang disusun dan diuji dengan benar sebelum disebar? Lihat layanan riset pasar dan survei kami.
Sedang menyusun kuesioner untuk skripsi, tesis, disertasi, atau survei institusi? Tim datalytics.indo membantu dari perumusan konsep dan butir pertanyaan, uji coba dan uji validitas-reliabilitas, sampling, analisis (regresi, PLS-SEM/SEM, analisis jalur, faktor, klaster, dan lainnya), sampai interpretasi. Tersedia juga bimbingan privat. Hubungi kami untuk mendapatkan solusi terbaik.