Hampir setiap perusahaan pernah melakukannya: survei kepuasan atau engagement karyawan. Kuesioner disebar, hasilnya direkap, dibuat presentasi yang rapi, lalu disimpan di folder bersama. Setahun kemudian, survei yang sama diulang. Skornya naik 0,1. Semua tersenyum. Tidak ada yang berubah.
Saya sudah beberapa kali terlibat dalam survei seperti ini, termasuk survei engagement untuk perusahaan retail dengan ratusan karyawan yang hasilnya dipresentasikan langsung kepada direksi dan dewan komisaris. Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa survei yang gagal jarang gagal karena rumus statistiknya. Ia gagal karena arahnya salah sejak awal. Berikut enam kesalahan yang paling sering saya temui.
1. Mengejar skor, bukan keputusan
Pertanyaan pertama yang saya ajukan kepada klien selalu sama: “Kalau hasil survei ini keluar, keputusan apa yang akan Anda ambil?” Sering jawabannya hening beberapa detik. Survei yang dirancang tanpa keputusan di belakangnya akan menghasilkan satu angka (misalnya skor engagement 4,12) yang tidak memberi petunjuk apa pun. Apakah itu bagus? Apakah itu buruk? Apa yang harus dilakukan?
Rancang survei dari belakang. Mulai dari keputusan yang mungkin diambil (misalnya perubahan kebijakan cuti, perbaikan komunikasi atasan, atau program pengembangan karier), baru turunkan pertanyaan yang relevan dengan keputusan itu.
2. Hanya melaporkan rata-rata
Skor rata-rata 4,12 dari 5 terdengar bagus. Tapi rata-rata bisa menyembunyikan dua kelompok yang sangat berbeda: sebagian karyawan sangat puas, sebagian lain sangat tidak puas. Rata-rata mereka tampak “lumayan”, padahal perusahaan sedang menghadapi masalah yang serius di satu kelompok.
Selalu lihat sebaran dan perbandingan antarkelompok: per divisi, per masa kerja, per level jabatan, per lokasi. Dan jangan lupa membaca persentase jawaban “tidak puas” atau “sangat tidak puas”, bukan hanya rata-ratanya. Masalah organisasi biasanya bersembunyi di ekor distribusi.
3. Tidak mencari penggerak (driver), hanya mengukur tingkat
Survei engagement sering berhenti pada pertanyaan “seberapa engaged karyawan kita?”. Padahal pertanyaan yang lebih bernilai adalah: “apa yang paling memengaruhi engagement di perusahaan kita?”
Di sinilah analisis statistik berperan. Dengan regresi atau analisis jalur, kita bisa melihat faktor mana yang paling kuat hubungannya dengan engagement: kepemimpinan langsung, kompensasi, beban kerja, peluang berkembang, atau komunikasi. Ini yang membedakan survei yang sekadar “memotret” dari survei yang “menunjuk arah”. Kalau hanya punya anggaran untuk memperbaiki dua hal tahun ini, kamu perlu tahu dua hal mana yang dampaknya paling besar.
4. Pertanyaan yang bias, ganda, atau terlalu manis
Beberapa contoh yang sering lolos:
- Pertanyaan ganda: “Saya puas dengan gaji dan tunjangan saya.” Bagaimana kalau seseorang puas dengan gaji tetapi tidak dengan tunjangan? Ia tidak punya jawaban yang jujur.
- Pertanyaan menggiring: “Seberapa setuju Anda bahwa atasan Anda sudah mendukung Anda dengan baik?” Kalimat itu sudah menyiratkan jawaban.
- Istilah kabur: “Saya merasa dihargai di perusahaan ini.” Dihargai oleh siapa? Dalam bentuk apa?
Pertanyaan yang baik pendek, spesifik, satu gagasan, dan tidak mengisyaratkan jawaban. Selalu uji coba kuesioner pada sepuluh sampai dua puluh orang sebelum disebar luas, dan tanyakan kepada mereka bagian mana yang membingungkan.
5. Mengabaikan kerahasiaan dan efek takut
Survei kepuasan karyawan hanya berguna jika karyawan berani jujur. Karyawan hanya akan jujur jika mereka yakin jawabannya tidak bisa ditelusuri ke dirinya. Dua kebiasaan buruk yang sering merusak kepercayaan ini:
- Melaporkan hasil untuk kelompok yang terlalu kecil. Kalau satu tim hanya terdiri dari empat orang dan hasilnya dilaporkan per tim, atasan dengan mudah menebak siapa yang menjawab apa. Tetapkan ambang minimum jumlah responden untuk setiap pelaporan.
- Meminta data identitas yang berlebihan. Kombinasi divisi, jabatan, usia, dan masa kerja bisa mengidentifikasi seseorang dengan hampir pasti, terutama di unit kecil.
Kalau karyawan curiga, mereka akan menjawab dengan aman, yaitu skor tinggi tanpa makna. Di sinilah survei menghasilkan data yang cantik tetapi kosong.
6. Tidak ada tindak lanjut, sehingga survei berikutnya makin sepi
Ini kesalahan yang paling mahal. Karyawan mengisi survei dengan harapan sesuatu berubah. Ketika tidak ada tindak lanjut yang terlihat, mereka belajar satu hal: survei ini formalitas. Tingkat respons turun, kejujuran turun, dan survei berikutnya menghasilkan data yang makin tidak berguna.
Praktik yang jauh lebih sehat: umumkan hasil (secara jujur, termasuk yang kurang menyenangkan), tetapkan beberapa prioritas yang realistis, tunjuk penanggung jawab, dan laporkan kemajuan sebelum survei berikutnya. Ketika karyawan melihat satu hal kecil yang berubah akibat survei, kepercayaan mereka untuk menjawab jujur berikutnya naik drastis.
Lalu, survei yang baik itu seperti apa?
Ringkasnya, survei engagement yang berguna punya lima ciri:
- Dirancang dari keputusan yang akan diambil.
- Menggunakan kuesioner yang sudah diuji (valid dan reliabel), bukan sekadar daftar pertanyaan yang terdengar bagus.
- Dianalisis dengan melihat sebaran, perbandingan kelompok, dan penggerak, bukan hanya rata-rata.
- Dijaga kerahasiaannya dengan ambang minimum pelaporan.
- Diikuti tindak lanjut yang terlihat dan dikomunikasikan.
Kalau lima hal itu ada, angka 4,12 tadi berhenti menjadi sekadar angka. Ia menjadi titik awal percakapan yang nyata antara manajemen dan karyawan, dan percakapan itulah yang sebenarnya membuat organisasi berubah.
Contoh kerangka laporan satu halaman untuk direksi
Hasil survei yang baik bisa diringkas di satu halaman. Berikut kerangka yang saya anjurkan: (1) tiga angka utama dengan pembanding (skor keseluruhan, tingkat partisipasi, perubahan dari survei sebelumnya), (2) tiga kekuatan terbesar dan tiga area yang perlu perbaikan, lengkap dengan angka, (3) dua sampai tiga penggerak utama engagement yang diperoleh dari analisis statistik, (4) rekomendasi prioritas dengan penanggung jawab dan tenggat, dan (5) satu kalimat tentang keterbatasan data. Halaman-halaman berikutnya adalah lampiran untuk mereka yang ingin menggali. Direksi yang membaca satu halaman yang jelas lebih mungkin bertindak daripada direksi yang membaca lima puluh slide.
Jangan lupakan pertanyaan terbuka
Angka memberi gambaran ‘seberapa’, tetapi komentar bebas memberi ‘mengapa’. Satu atau dua pertanyaan terbuka, misalnya ‘Apa satu hal yang paling perlu diperbaiki di perusahaan ini?’, sering menghasilkan wawasan yang tidak terduga. Komentar itu bisa dikelompokkan berdasarkan tema (analisis isi), lalu dihitung frekuensinya. Gabungan angka dan cerita jauh lebih meyakinkan bagi manajemen dibanding angka saja. Pastikan komentar yang dilaporkan sudah dianonimkan sehingga tidak bisa ditelusuri ke individu.
Tanya jawab singkat
Seberapa sering survei engagement sebaiknya dilakukan? Banyak perusahaan melakukan survei menyeluruh setahun sekali, dilengkapi survei singkat (pulse survey) beberapa pertanyaan setiap kuartal untuk memantau isu spesifik. Terlalu sering membuat karyawan jenuh, terlalu jarang membuat masalah terlambat terdeteksi. Yang terpenting, jangan melakukan survei baru sebelum tindak lanjut survei sebelumnya terlihat.
Apakah skor tinggi selalu baik? Tidak selalu. Skor yang sangat tinggi dan seragam di semua divisi kadang menandakan karyawan takut jujur atau pertanyaannya terlalu manis. Bandingkan dengan data perilaku seperti tingkat resign, absensi, dan partisipasi pelatihan sebagai pemeriksaan silang.
Ingin survei kepuasan atau engagement karyawan yang tepat arah? Lihat layanan riset pasar dan survei kami.
Sedang merencanakan survei kepuasan pelanggan atau engagement karyawan untuk perusahaan atau institusimu? Tim datalytics.indo membantu dari desain survei, uji instrumen, sampling, analisis (penggerak engagement dengan regresi atau analisis jalur), sampai presentasi rekomendasi untuk manajemen. Tersedia juga pelatihan in-house. Hubungi kami untuk mendapatkan solusi terbaik.