Tanya Kriminolog: 4 Pertanyaan yang Sering Muncul Saat Orang Membaca Statistik Kriminal

·

Pagi tadi saya menjawab pertanyaan seputar sampel, normalitas, dan nilai p. Sore ini giliran pertanyaan-pertanyaan yang muncul setiap kali orang membaca statistik kriminal. Latar belakang saya di kriminologi membuat saya sering dihubungi justru oleh orang yang tidak sedang kuliah kriminologi: wartawan, mahasiswa lintas jurusan, pegawai pemerintah daerah, bahkan orang tua yang sedang memilih tempat tinggal.

Empat pertanyaan berikut mewakili hampir semua yang pernah saya dengar. Jawabannya saya ambil dari Statistik Kriminal BPS 2024.

1. “Kota atau polda mana yang paling aman?”

Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi jawabannya bergantung pada apa yang kamu maksud dengan “aman”.

Kalau yang dilihat jumlah kejadian, Polda Metro Jaya tertinggi dengan 77.261 kejadian pada 2024, disusul Sumatera Utara (60.724) dan Jawa Timur (60.102). Tapi jumlah itu belum memperhitungkan penduduk. Dengan crime rate (kejahatan per 100.000 penduduk), urutan risikonya menjadi Sulawesi Utara 540, Papua Barat 501, dan Sulawesi Selatan 440, sementara Metro Jaya ada di urutan ke-8 dengan 316.

Jadi untuk membandingkan wilayah, pakai rasio per penduduk, bukan jumlah mentah. Dan ingat bahwa crime rate itu sendiri dihitung dari kejadian yang tercatat, jadi tingkat pelaporan di tiap wilayah ikut memengaruhinya. Wilayah dengan layanan pelaporan yang mudah bisa tampak “lebih rawan” justru karena warganya lebih sering melapor.

2. “Kasus narkotika naik 12%. Berarti peredaran narkoba meningkat?”

Kasus narkotika tercatat naik dari 39.496 menjadi 44.295. Fakta itu benar. Kesimpulan “peredarannya meningkat” belum tentu.

Narkotika termasuk kejahatan tanpa korban pelapor. Tidak ada orang yang datang ke kantor polisi untuk melaporkan dirinya sebagai pembeli. Kasus tercatat ketika aparat menemukan, menangkap, atau menyelidiki. Karena itu angkanya sangat bergantung pada intensitas penindakan. Kalau operasi digencarkan, angka naik. Kalau operasi dikurangi, angka turun, sementara peredarannya mungkin sama saja.

Pertanyaan penelitian yang lebih menarik adalah: apa yang mengubah intensitas penindakan itu, dan apakah ada data pembanding seperti survei penyalahgunaan atau data layanan rehabilitasi yang bisa dipakai untuk menguji tafsir kita. Untuk mahasiswa, ini topik skripsi yang kaya.

3. “Kenapa data polisi dan data survei bisa berbeda jauh?”

Contoh paling jelas adalah Jawa Barat. Data kepolisian menempatkannya sebagai provinsi dengan crime rate terendah (89 per 100.000), tetapi survei Susenas menunjukkan 1,30% penduduknya mengaku pernah menjadi korban kejahatan, urutan ketiga tertinggi dan jauh di atas rata-rata nasional 0,73%.

Dua angka itu tidak saling membatalkan. Keduanya mengukur hal berbeda dengan satuan berbeda. Data polisi menghitung kejadian yang dilaporkan. Survei menghitung persentase penduduk yang mengaku jadi korban, terlepas dari apakah mereka melapor. Selisihnya adalah informasi penting, bukan kesalahan: ia menunjukkan seberapa jauh catatan resmi dari pengalaman warga.

Cara praktis membandingkannya adalah memakai peringkat, bukan angka mentah, lalu menghitung korelasi peringkat antara kedua ukuran. Kalau peringkatnya searah, kedua sumber “sepakat” tentang mana wilayah yang lebih rawan. Kalau berlawanan, ada sesuatu yang perlu dijelaskan, misalnya perbedaan tingkat pelaporan.

4. “Apa itu angka gelap kejahatan?”

Angka gelap (dark figure of crime) adalah selisih antara kejahatan yang benar-benar terjadi dan kejahatan yang tercatat secara resmi. Istilah ini sudah lama dipakai kriminolog, karena sejak awal disadari bahwa catatan polisi hanya melihat sebagian dari kenyataan.

Datanya hadir di Statistik Kriminal 2024: hanya sekitar 20,28% korban kejahatan yang melapor ke polisi, turun dari 23,36% setahun sebelumnya. Kalau, sebagai ilustrasi yang sangat kasar, sebuah jenis kejahatan tercatat 1.000 kasus dan hanya 20% korbannya yang melapor, perkiraan jumlah korban sebenarnya bisa sekitar 5.000. Hitungan itu bergantung pada banyak asumsi, misalnya tingkat pelaporan yang sama di semua wilayah, dan itu jelas tidak benar. Tapi ia cukup untuk memperlihatkan skalanya.

Ringkasan jawaban

PertanyaanJawaban singkat
Wilayah mana yang paling aman?Bandingkan per 100.000 penduduk, bukan jumlah mentah
Narkotika naik berarti peredaran naik?Belum tentu: angkanya juga mengukur gencarnya penindakan
Kenapa polisi dan survei beda?Beda yang diukur: kejadian dilaporkan vs pengalaman warga
Apa itu angka gelap?Selisih kejadian nyata dan yang tercatat; sekitar 80% korban tidak melapor menurut survei 2024

Pertanyaan tambahan: “Apakah kota besar pasti lebih rawan?”

Pertanyaan ini sering menyusul. Jawaban kriminologinya berlapis. Kota besar memang punya lebih banyak peluang kejahatan: lebih banyak orang, kendaraan, dan barang bernilai di tempat yang sama, serta pengawasan sosial yang lebih longgar dibandingkan lingkungan kecil tempat semua orang saling kenal. Di sisi lain, kota besar juga cenderung punya layanan pelaporan yang lebih mudah diakses, sehingga sebagian kejadian lebih sering tercatat.

Akibatnya, angka registrasi di kota besar bisa tinggi karena dua alasan sekaligus: kejadian yang lebih banyak, dan pelaporan yang lebih mudah. Menguraikan porsi masing-masing adalah salah satu tantangan penelitian terbesar di bidang ini, dan itulah kenapa peneliti jarang puas dengan satu sumber data.

Mini latihan: hitung crime rate sendiri

Crime rate itu sebenarnya hitungan sederhana: jumlah kejadian dibagi jumlah penduduk, lalu dikali 100.000. Berikut contoh ilustrasi dengan angka rekaan, hanya untuk menunjukkan logikanya.

Misalkan Wilayah A mencatat 3.000 kejadian dengan penduduk 600.000 orang, dan Wilayah B mencatat 6.000 kejadian dengan penduduk 2.000.000 orang. Wilayah B punya kasus dua kali lebih banyak. Tapi crime rate Wilayah A adalah 3.000 ÷ 600.000 × 100.000 = 500, sedangkan Wilayah B 6.000 ÷ 2.000.000 × 100.000 = 300. Per penduduk, Wilayah A justru lebih berisiko.

Coba ulangi dengan data wilayahmu sendiri. Jangan lupa menuliskan tahun, sumber jumlah penduduknya, dan apakah semua jenis kejadian ikut dihitung.

Kalau kamu ingin menelusuri datanya sendiri

Publikasi Statistik Kriminal tersedia di situs BPS. Cara paling praktis untuk memulai: buka edisi terbaru, baca bagian pengantar dan catatan teknis dulu (di sanalah definisi dan sumber data dijelaskan), baru kemudian lihat tabelnya. Bandingkan satu tabel dari data registrasi kepolisian dengan satu tabel dari survei (Susenas), lalu tuliskan tiga hal: apa yang diukur, satuan yang dipakai, dan siapa yang tidak ikut terhitung. Latihan ini cukup satu jam dan sangat menajamkan cara membaca.

Satu catatan kehati-hatian

Statistik kriminal menyangkut orang sungguhan: korban, keluarga, dan pelaku. Ketika kita membahas “angka”, kita sedang membahas peristiwa yang kadang menyakitkan. Karena itu bahasa yang kita pakai sebaiknya cermat, tidak sensasional, dan tidak menyalahkan korban. Statistik yang baik membantu kita memahami dan mencegah, bukan menakut-nakuti.

Kalau ada pertanyaan tentang statistik kriminal yang ingin dibahas lebih dalam, tulis di komentar.

Baca juga: Tanya Statistikawan: 3 Pertanyaan yang Paling Sering Saya Terima dan 5 Salah Paham tentang Angka Resmi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *